HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Search This Blog

Powered by Blogger.

Blog Archive

DISKUSI NASIONAL BERBASIS ONLINE, FARID : STRATEGI SUKSES PUBLIK SPEAKING HARUS PERCAYA DIRI

Ketua HMJ Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (PEMATERI)
Himpunan Mahasiswa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (HM-PS KPI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) PONTIANAK mengadakan diskusi nasional online dengan mengangkat tema “Strategi Sukses menjadi Jagoan Publik Speaking dengan Penuh Percaya diri“.
Pemateri Diskusi Nasional Online ini adalah Farid Abdullah Lubis ketua umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Diskusi yang berlangsung selama kurang lebih dua jam ini diikuti oleh kurang lebih 40 mahasiswa dari berbagai daerah seperti Pontianak, Jakarta, Purwakarta dan lain sebagainya.

Pada permulaan materi, Farid Abdullah Lubis menyampaikan bahwa teori yang digaungkan oleh Aristoteles adalah bahwa komunikasi mempunyai beberapa komponen yakni komunikator, pesan, dan komunikan. Karena dengan ketiga komponen tersebut komunikasi baru dapat berjalan.
Tak hanya itu ketua umum himpunan mahasiswa jurusan komunikasi penyiaran islam ini juga menjelaskan bahwa teori komunikasi Aristoteles terdapat tiga asumsi yakni ethos, pathos dan logos.
“Ada tiga asumsi dalam teori komunikasi Aristoteles. Ethos merujuk pada karakter, intelegensi, dan niat baik yang dipersepsikan dari seorang pembicara ketika hal-hal ini ditunjukan melalui pesannya. Pathos berkaitan dengan emosi yang dimunculkan dari para pendengar. Dan Logos adalah bukti-bukti logis yang digunakan oleh komunikator”. Papar Farid.
Sosok Farid yang dikenal kharismatik, berwibawa, energik serta berjiwa pemimpin ini patut dijadikan contoh oleh kaum millenial masa kini yang ingin bergelut dalam dunia publik speaking. Pasalnya, dalam diskusi yang hangat berbasis online ini Farid sedikit menceritakan bagaimana perjalanan dia di dalam publik speaking.
“Saya akan sharing sedikit pengalaman saya terkait perjalanan saya dalam Public Speaking ini. Pertama, saya menanamkan mindset berfikir bahwa tidak ada yang mustahil selagi kita percaya. Kita harus meyakinkan diri kita bisa melakukan hal tersebut (menjadi public speaker). Kedua, percaya diri adalah kuncinya intinya kita PD aja dulu. Masalah salah atau benar itu belakangan. Ketiga, pastikan kita mempunyai mentor dalam mengarahkan kita untuk menjadi lebih baik kedepannya. Sering berdiskusi juga menjadi salah satu usaha kita untuk meningkatkan rasa percaya diri. Terakhir, penguasaan materi juga sangat penting dilakukan agar meminimalisir rasa gerogi pada saat tampil di depan khalayak ramai”. Pungkasnya.
Tidak hanya penyampaian materi dari Farid saja namun ada juga sesi tanya jawab yakni peseeta disuksi dipersilakan untuk bertanya kepada pemateri. Dari apa yang telah disampaikan pemateri, banyak peserta yang antusias mengikuti diskusi dan melontarkan pertanyaan kepada pemateri yang sangat luar biasa tersebut. Diantaranya ada Defa yang menanyakan bagaimana cara kita untuk menghilangkan grogi atau nervous?
Pertanyaan ini langsung dijawab oleh Farid. “Setiap orang hendaknya mempunyai cara tersendiri untuk menghilangkan grogi atau nervousnya. Bisa saja dengan melakukan pemanasan ringan sebelum tampil di depan khalayak dan masih banyak cara lainnya. Namun, hal tersebut harus disesuaikan dengan kondisi dan keadaan pribadi. Karena setiap pribadi pasti akan merasakan hal yang berbeda. Adapun cara lain misalnya dengan memaksimalkan latihan di depan kaca. Kemudian, penguasaan materi pun menjadi hal yang sangat penting. Semakin kita menguasai materi akan semakin kecil kemungkinan untuk kita grogi atau nervous”. Papar Farid.
Selain Defa ada juga Fawwaz dari IAIN Pontianak yang bertanya kepada pemateri handal ini. “Menjadi public speaker hal yang utama menjadi perhatian khalayak adalah penampilan. Bagaimana jika kita merasakan susah berpenampilan baik, namun audiens menilai bahwa penampilan kita masih belum maksimal?”. Tanya Fawwaz
“Saya sepakat bahwa ketika kita berbicara di depan khalayak ramai. Penampilan kita akan diperhatikan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Namun, bagaimana jika audience merasa bahwa penampilan kita kurang menarik padahal kita sudah berusaha untuk berpenampilan semenarik mungkin. Saran saya, jangan terlalu mendengarkan apa kata orang. Jika kita sudah merasa maksimal dalam berpenampilan walaupun dinilai tidak menarik kita bisa saja alihkan fokus komunikan bukan pada penampilan kita. Tetapi pada apa yang kita sampaikan. Seperti kita bisa mencairkan suasana dengan nuansa humor. Atau dengan penggunaan kata yang akan kita ucapkan. Hal tersebut bisa saja menjadi pengalihan fokus komunikan agar tidak terlalu fokus pada penampilan kita”. Jelas Farid Abdullah.
Muhammad Khairuddin, selaku Duta IAIN Pontianak sekaligus Menteri Agama DEMA IAIN Pontianak sangat mengapresiasi agenda diskusi nasional berbasis online ini.
“Saya sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh pengurus HM-PS KPI ini. Karena dalam situasi dan kondisi yang serba online ini mereka bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang sedemikian rupa. Mereka memiliki inisiatif untuk tetap bisa membuat kegiatan yang produktif, dan mereka bisa membaca cela dengan memanfaatkan situasi yg sekarang terjadi untuk membuat kegiatan berskala Nasional. Semoga dengan adanya diskusi berbasis online ini tidak menjadi penghambat untuk kita tetap terus bersilaturrahmi dan bertukar pikiran seperti diskusi atau seminar-seminar pada umumnya”. Ujar Khairuddin
(Red/HM-PS KPI IAIN Pontianak)

Previous
« Prev Post

Contact Form

Name

Email *

Message *