HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Search This Blog

Powered by Blogger.

Blog Archive

Hari Buruh, Antara Ceremonial atau Kepedulian Semu

(Januari Riki Efendi, S.Sos)

Haranews.com|•1 Mei diperingati oleh seluruh dunia denganhari buruh Internasional. Hari buruh ini setiap tahun diperingati oleh masyarakat dunia terkhusus para buruh. Biasanya Event hari buruh ini diperingati dengan unjuk rasa tuntutan keadilan bagi buruh, baik yang dilakukan oleh Mahasiswa dan buruh itu sendiri.

Tentu ini menjadi hal yang sudah biasa dilakukan oleh masyarakat, tetapi apa efek besar dari hari buruh yang setiap tahun diperingati oleh masyarakat dunia ini? Sejatinya buruh tak perlu menunggu 1 Mei untuk menuntut keadilannya, buruh tentu saja berhak menuntut keadilannya kapanpun, jika darah keadilan itu tak diindahkan maka seharusnya masyarakat ikut menyokong untuk membantu pergerakan para buruh.

Ada jutaan buruh yang hidup di negeri ini, darah dan keringat mereka dikuras habis oleh boss-boss kapitalis mereka. Bahkan ditengah-tengah pandemi ini, boss-boss kapitalis mereka punya alasan yang kuat untuk memecat karyawannya. Inilah realitas nya, bukan hanya terjadi hari ini, tapi sudah mendarah daging. Sejak sistem kerja kapitalis di aminkan oleh perusahaan dunia, maka sejak saat itulah penindasan para buruh dimulai. Karl Marx membenci kapitalis dan agama dikarenakan mereka berkomplot untuk menghisap keringat kaum miskin dan marjinal untuk diambil keuntungannya.

Kapitalis adalah satu-satunya biang pembuat kemiskinan yang terus membengkak di seluruh dunia. Apalagi ditengah-tengah masyarakat berkembang dan terbelakang, kapitalis terus mengeruk sumber daya baik manusia dan alamnya. Lantas apa untungnya dengan adanya hari buruh? Jika buruh di dunia sama saja tak sejahtera,Tak diberi keadilan.

Hari buruh berfungsi hanya untuk pujian dan pembelaan ceremonial belaka, bahkan boss-boss kapitalis di dunia saat ini pun ikut mengucapkan selamat hari buruh bagi buruh yang ditindasnya. Lalu yang menjadi pertanyaan saat ini adalah, kita yang mengucapkan Selamat Hari Buruh saat ini, apakah mengucapkan  Selamat Hari Ketertindasan Buruh atau kita hanya ingin menyenangkan hati kaum buruh saja?
Tidak ada gunanya memberikan selamat hari buruh, toh buruh kita masih begini-begini saja, tertindas dan terancam di PHK kapanpun ketika tak dibutuhkan lagi, tak ada jaminan masa depan dan harus menderita di tengah-tengah pandemi Corona ini.

Kita masih sumringah dengan bangga mengucapkan hari buruh ditengah-tengah kematian buruh secara perlahan-lahan. Mesin kapitalis adalah mesin pembunuh, dia membunuh satu demi satu kaum buruh lalu akan membuat tergiur anak cucu selanjutnya untuk ikut menjadi budak di dalamnya. Lalu, hari buruh tetap di beri selamat. Hari buruh ini hanya membuktikan bahwa buruh kita masih tertindas dengan segala problematikanya.

Buruh saat ini menghadapi berlipat-lipat cobaan. Terancam di PHK ditengah-tengah Pandemi, tak bisa mudik, tak bisa memberikan makan bagi keluarga di bulan Ramadhan juga terancam tak bisa berlebaran dengan kegembiraan seperti biasa. Nasib buruh, sudah ditindas, tapi tingkat kepedulian masyarakat hanya sekedar ucapan selamat yang di berikan setahun sekali.

Jika memilih sejarah hari buruh tentu saja ini semua tak terlepas dari perjuangan buruh menuntut hak-haknya yaitu : Hak untuk cuti, delapan jam kerja, hak berserikat, hak untuk mendapatkan pesangon, hak untuk kesehatan, hak untuk mendapatkan hari libur, hingga kesetaraan upah bagi laki-laki dan perempuan adalah hak yang diperoleh dari perjuangan kaum buruh. Satu Mei sebagai sebuah momen bagi buruh telah melewati masa yang panjang. Perayaan hari buruh internasional satu Mei berawal dari perjuangan 200.000 buruh di Amerika pada 1886 yang melakukan mogok massal menuntut delapan jam kerja.

Lalu, lihatlah realitanya? Di negeri ini tetap saja para buruh tak mendapatkan hak-haknya. Bahkan akan segera ditindas kembali dengan adanya RUU cipta kerja atau Omnibus Law. Salam

By : Januari Riki Efendi, S.Sos
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana jurusan Pemikiran Politik Islam UINSU dan Pegiat Literasi.

Previous
« Prev Post

Contact Form

Name

Email *

Message *