HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Search This Blog

Powered by Blogger.

Blog Archive

Menulislah.. Jika Ingin Mengubah Dunia..

(Januari Riki Efendi, S.Sos)
Haranews.com|•Banyak orang yang tidak percaya bahwa dengan menulis, seseorang bisa mengubah dunia. Banyak juga orang yang berpikiran bahwa, menulis adalah cara yang lamban untuk mengubah dunia. Banyak orang lebih senang melakukan gebrakan-gebrakan langsung tanpa karya. Tentu saja ini tidak salah. Tapi.. Sampai berapa lamakah seseorang itu bisa dikenang ketika tak ada karya?

Jika dikatakan bahwa menulis bukan cara efektif untuk mengubah dunia, ini adalag kalimat yang sangat fatal kesalahannya. Dunia ini terbentuk karena adanya "pena", begitulah kata Tuhan dalam kitab Alquran. Bahkan Tuhan memberi nama satu Surah dengan nama Al-Qalam yang artinya _Pena_ . Pena adalah lambang kehidupan, buku adalah lambang dunia. Begitulah kira-kira jika kita menilik arti dan maknanya.

Menulis adalah sesuatu yang sangat sakral bagi kehidupan dunia. Berapa banyak teori dan pikiran akademik yang harus dituliskan hingga menjadi karya dan menjadi rujukan dalam kehidupan dunia. Jika masih kita katakan menulis adalah cara yang lamban untuk mengubah dunia. Mari kita berkaca dari sejarah tokoh-tokoh dunia.

Semua tokoh dunia yang berhasil mengubah dunia, mereka selain orator, agamawan, atapun politikus, meraka juga penulis ulung. Lihatlah karya Adam Smith, _The Wealth of Nations_ yang telah mengubah dunia dengan kapitalisme nya. Lihatlah karya Das Kapital yang telah menjadi "kitab" utama kaum Komunis.
Dua pemikiran tersebut telah berhasil mengubah wajah dunia. Dalam dunia sosialisme, dunia juga punya _Mein Kampf_ nya Adolf Hitler.

Lalu bagaimana Freud mengubah wajah psikologi dunia dengan psikoanalisisnya. Darwin dengan tulisan-tulisannya tentang teori Evolusi.

Dalam dunia Islam, kita mengenal Al-Ghazali dengan karya Ihya Ulumuddin, Tahafut Al-Falasifahnya, juga Ibnu Sina dengan karya Qanun Fii at Thibnya, yang beberapa abad bahkan hingga sekarang menjadi rujukan kedokteran dunia. Lalu Ibnu Rusyd atau Averroes yang berhasil mengubah Dunia Eropa hingga tercetusnya renaissance di Eropa.

Masih banyak lagi tokoh-tokoh yang mampu mengubah dunia dengan tulisan. Di Indonesia ada Bung Karno, Hatta, Buya Hamka, Tan Malaka, Pramodya Ananta Toer, Soe Hok Gie, Nurcholis Madjid, Gus Dur dan lainnya. Semua karya mereka mampu mengubah masyarakat Indonesia, baik dalam bidang sosial, budaya, politik serta agama. Lalu masihkah kita mengatakan, menulis adalah cara terlamban untuk mengubah dunia?

Lalu, bagaimana dengan dunia milenial saat ini? Masih menulis sebagai cara relevan untuk mengubah dunia. Tentu masih sangat relevan. Tidak ada cara lain untuk mengabarkan kepada dunia tentang pikiran kita kecuali dengan menulis. Milenial saat ini terlalu terkooptasi dengan hanya mau menulis sesuatu di media sosial. Padahal media sosial akan dilupakan, pengaruhnya tidak bisa bertahan lama. Bahkan hanya hitungan jam. Milenial saat ini menyukai cara instan, tidak suka menuliskan apapun yang ada di dalam kepalanya untuk dijadikan sebuah karya. Apakah itu sekedar menulis artikel di media beria online atau di media koran.

Jika ingin dikenang, maka tinggalkanlah karya. Karya yang akan berbicara di masa depan, siapa jati diri kita. Bukankah Buya Hamka sudah meninggal puluhan tahun lalu? Tapi namanya masih kita sebut-sebut. Bukankah Tan Malaka juga sudah mati? Tapi semangat pergerakannya masih hidup hingga saat ini. Ini semua karena _legacy_ karya tulisan yang ditinggalkan beliau mampu membekas ditengah-tengah masyarakat.

Maka kaum milenial saat ini harusnya sadar, menulis menjadi penting karena hanya dengan itu jejak hidup nya akab dikenang. Menulis adalah satu-satunya cara untuk meninggalkan amalan jariyah untuk masyarakat.

Jika sulit untuk mengikuti metode menulis yang baik, maka tulis sajalah  apapun yang ada didalam pikiran. Tuangkan dalam "wadah" baik di catatan Handphone atau dikertas. Lalu kumpulkan. Ntah suatu hari nanti itu akan menjadi kumpulan tulisan yang bisa menjadi sebuah buku. Atau cobalah menulis artikel-artikel lalu kirimkan ke media berita online atau offline. Itu seminimal usaha dalam memulai menulis.

Jika memang sudah sangat mahir dalam menulis, maka jangan pernah berhenti. Karena itu sebuah modal utama untuk membuat sebuah karya, bahkan Buya Hamka membuat Tafsir Al-Azhar nya di dalam Penjara. Bagaimana kita yang tak di dalam penjara, yang sudah memiliki kemudahan seperti gadget ini? Apakah masih tak membuat kita untuk mau menulis?

Maka mari mulai menulis untuk berusaha mengubah dunia. Untuk mengubah suatu tatanan yang "mungkin" tidak baik bisa menjadi baik. Tetapi yang paling utama dalam menulis adalah "istiqomah", jika memiliki bakat tetapi tak istiqomah, maka tidak akan maksimal hasilnya.
Maka mulailah menulis, karena kita tidak tahu, bagian kalimat mana dari tulisan kita yang mampu menginspirasi orang lain, dan kita juga tidak tahu, bagian dunia mana yang telah kita ubah. Salam

By : Januari Riki Efendi, S.Sos
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana jurusan Pemikiran Politik Islam UINSU dan Pegiat Literasi.

Previous
« Prev Post

Contact Form

Name

Email *

Message *