HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Search This Blog

Powered by Blogger.

Blog Archive

PERANG NEOKORTEKS


Haranews.com|•Secara lazim perang sering di artikan pertikaiansenjata antara dua atau lebih antar kelompok manusia. Namun dalam pembahasan kali ini perang neokorteks sangat berbeda dengan perang pada umumnya.

Perang Neokorteks (Neocortical Warfare) adalah cara perang tanpa penggunaan kekerasan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sun Tzu , yaitu panglima perang yang unggul adalah ia yang dapat menundukkan musuhnya tanpa menggunakan pertempuran.

Kukira kita sudah merdeka, ternyata kita masih terjajah, siapa sangka sejak 1956 hingga hari ini barat berhasil mencekoki pemikiran masyarakat Indonesia dari spritualisme menjadi total materialisme yang menyebabkan segala sesuatunya harus berupa wujud benda, ini adalah perang neokorteks.

Dalam pelajaran Feuerbach materialisme ialah suatu peraturan falsafah yang mengatakan, bahwa segala sesuatu yang ada itu tidak lain adalah barang benda belaka.

Kita orang yang ber-Tuhan mengatakan dengan yakin bahwa segala sesuatu itu asalnya dari Allah, oleh Allah dan kembali kepada Allah. Tetapi historis materialisme sebaliknya , ia mengajarkan bahwa segala sesuatu itu berasal dari benda, oleh benda dan kembali ke benda.

Agaknya kita tidak tersesat, kalau kita mengatakan bukan saja historis materialisme itu memungkiri adanya Allah, tetapi historis materialisme itu juga bertuhankan benda (stofverguding). Bahkan Duitdch seorang sosialis barat terus terang mengaku bahwa "Tuhan yang menjadikan manusia, tetapi manusia yang membikin-bikin Tuhan".

Jika manusia terus bersetubuh dengan benda yang berwujud teknologi misalnya, dan keyakinan absolut manusia pada benda (mesin) maka akan masuk ke babak baru: yaitu ambruknya iman manusia pada benda itu sendiri.

Penulis yakin barat telah  memenangkan peperangan neokorteks di Indonesia dan berhasil menjadikan orang-orang bergantung pada benda hingga menjadikan benda sebagai tempat menyembah dan manusia akan lupa siapa sebenarnya penciptaNya.

Lantas apa tindakan kita??

Penulis Muhammad Aulia Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Previous
« Prev Post

Contact Form

Name

Email *

Message *