HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Search This Blog

Powered by Blogger.

Blog Archive

ETIKA DAKWAH ONLINE PADA MASA PANDEMI

 ETIKA DAKWAH ONLINE PADA MASA PANDEMI

(Nishfa Wardani Mahasiswi UIN SU)

Haranews.com|•Etika menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, hak dan kewajiban moral (akhlak). Etika juga dapat diartikan sebagai nilai-nilai kebaikan yang tumbuh dalam masyarakat. Nilai yang dihasilkan akan diciptakan untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupan bermasyarakat.

Setelah mempelajari asal-usulnya, sekarang kita berusaha menyimak artinya. Salah satu cara terbaik untuk mencari arti sebuah kata adalah melihat dalam kamus. Mengenai kata ‘etika” ada perbedaan yang mencolok, jika kita membandingkan apa yang dikatakan dalam kamus yang lama dengan kamus yang baru. Dalam kamus umum Bahasa Indonesia yang lama “etika” dijelaskan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral). Jadi kamus lama hanya mengenal satu arti, yaitu membaca dalam Koran “Dalam dunia bisnis etika merosot terus”, maka kata “etika” di sini hanya bisa berarti “etika sebagai ilmu”. Tapi yang dimaksudkan dalam kalimat seperti itu ternyata bukan etika sebagai ilmu. Kita bisa menyimpulkan bahwa kamus lama dalam penjelasannya tidak lengkap. Jika kita melihat dalam KBBI yang baru, disitu “etika” dijelaskan dengan membedakan tiga arti : 1) ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak), 2) Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, 3) Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Dalam bahasa Arab, istilah etika dikenal dengan yang namanya akhlak, yang juga mempunyai makna yang sama yaitu sesuatu yang menjelaskan baik ataupun buruknya perbuatan manusia terhadap manusia lainnya.

Ketika dikaitkan dengan dakwah, hal ini sangatlah berdampak besar. Mengingat dakwah islam haruslah dilaksanakan dengan serius dan dengan etika yang benar agar mad’u dapat dengan mudah merespon apa saja yang disampaikan oleh Da’i.

Dalam islam sendiri terdapat beberapa etika berkomunikasi yang baik yang dibangun dengan prinsip-prinsip islam yang memiliki ruh kedamaian, kelemahan dan kesalamatan yang berpedoman sesuai apa yang diajarkan dalam Al-qur’an dan sunnah Rasul. Istilah etika dalam berkomunikasi atau berbicara dalam islam dikenal dengan “Qaulan”, sedangkan dalam Bahasa Indonesia istilah “qaul” diartikan kata.

Menurut Ibnu Mandzur, “qaul” adalah Lafaz yang diucapkan oleh lisan baik maknanya sempurna ataupun tidak. Menurut definisi Ibnu Mandzur ini, maka “qaul” bisa berarti kata atau bisa juga berarti kalimat, karena kata yang maknanya sempurna dalam bahasa Indonesia disebut dengan kalimat. 

Selain mengandung makna, qaul adalah ucapan yang diucapkan oleh pembicara karena keinginan darinya. Qaul dalam Al-qur’an ditemukan cukup banyak ayat yang menggunakan istilah qaul. Secara umum, qaul yang terdapat dalam Al-qur’an bermakna kalimat dan digandeng dengan sifat tertentu.

Berikut ini beberapa qaul yang disebutkan dalam Al-qur’an :

Pertama, Qaulan Ma’rufan. Ma’ruf artinya kebaikan dunia maupun akhirat.ungkapan ini disebutkan empat kali dalam Al-qur’an dengan menampilkan empat peristiwa yang berbeda-beda. Empat ayat itu adalah surah al-baqarah ayat 235, surah an-nisa ayat 5, surah an-nisa ayat 8, dan surah al-ahzab ayat 32.

Misalkan saja dalam Surah al-baqarah ayat 235 memuat perintah Allah agar berkata dengan bahasa yang tidak vulgar untuk meminang wanita yang ditinggal mati suami atau dicerai oleh suaminya.

Yang dimaksud dengan qaulan ma’rufan dalam ayat diatas adalah mengucapkan bahasa sindiran yang tidak menyakiti dan menyinggung perempuan yang masih dalam suasana duka bahwa dia akan meminang perempuan itu setelah selesai ‘iddahnya.

Dapat disimpulkan bahwa qaulan ma’rufan adalah lafadz atau ungkapan yang baik, ramah, tidak kasar, tidak menyinggung perasaan orang, tidak kotor, dan tidak mengundang nafsu orang yang mendengarkannya untuk berbuat jahat.

Kedua, Qaulan Kariman. Qaulan kariman secara bahasa berarti perkataan yang mulia dan berharga. Lawan dari mulia dan berharga adalah murahan atau tidak punyai nilai. Ungkapan ini diabadikan oleh Al-qur’an pada surah al-isra ayat 23.

Allah SWT berfirman yang artinya “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.

Dapat disimpulkan bahwa qaulan kariman yaitu ungkapan yang mulia yang dibarengi dengan rasa hormat. Qaulan karima khusus digunakan saat kita berkomunikasi dengan kedua orang tua atau orang lebih dewasa dari kita.

ketiga, Qaulan  Balighan. Ungkapan qaulan balighan secara bahasa berarti perkataan yang sampai kepada maksud, berpengaruh dan berbekas kepada jiwa. Agar komunikasi yang disampaikan berbekas dan tepat sasaran hendaklah disampaikan dengan kata-kata yang efektif dan komunikatif. Kemudian disesuaikan dengan kadar intelektualitas komunikan dan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh mereka

keempat, Qaulan layyinan. Qaulan layyinan adalah ungkapan kata-kata yang disampaikan dengan lemah lembut. Dalam tafsir ibnu katsir dijelaskan bahwa qaulan layyinan adalah kata-kata sindiran.

Allah SWT Berfirman yang artinya “maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (fir;aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut”. (Q.S Ta-ha 20 ayat 44).

Ayat diatas adalah perintah Allah swt kepada nabi musa dan harus agar berbicara lemah lembut agar fir’aun merasa tersentuh dan jiwanya tergerak untuk menerima pesan yang disampaikan.

Qaulan layyinan berdasarkan data di atas merupakan strategi menaklukan hati yang keras dengan perkataan yang lemah lembut.

Kelima, Qaulan Sadidan. Ungkapan qaulan sadidan menurut bahasa berarti perkataan yang benar.ungkapan ini terdapat di dua tempat dalam Al-qur’an, yaitu di surah an-nisa ayat 9 dan di surah al-ahzab ayat 70. Dalam surah an-nisa (4) ayat 9 Allah berfirman yang artinya “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (Q.S an-nisa (4) : 9)

Fenomena dakwah belakangan ini semakin menarik, hal tersebut muncul seiring dengan perkembangannya teknologi yang semakin canggih dan sesuai dengan tuntutan zaman.

Di zaman millenial ini semua lini kehidupan sudah mulai memasuki era digital. Masyarakat ataupun mad’u sudah akrab dengan beragam aktivitas dalam dunia cyber. Seperti sudah tidak adanya lagi sekat yang menghalangi antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Seperti penggunaan sosial media, baik itu instagram, youtube, facebook, dan sebagainya untuk memudahkan penyebaran informasi dan komunikasi diantara sesama. Beragam kemudahan dapat diperoleh dengan menggunakan teknologi digital , begitu pula dengan hal mensyiarkan agama yang semata-mata untuk menyebarkan kebaikan atau berdakwah.

Mengingat masa sekarang Berdakwah tidak bisa dilakukan secara langsung, tetapi dengan adanya media cyber (online) dapat memudahkan para da’I dalam menyebarkan kebaikan (berdakwah).

Sebagai khalifah dimuka bumi ini, kita diwajibkan untuk berdakwah. Sebagaimana firman Allah  swt berfirman dalam Q.S Ali-Imran 3 ayat 104, yang artinya “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. Ketika seorang muslim yang telah baligh dan berakal, baik laki-laki ataupun perempuan melakukan kewajiban dalam mengemban tugas dakwah.

Walaupun dalam keadaan pandemi seperti ini, tidak menghalangi para da’I untuk tetap melakukan proses dakwah, mengingat pada saat pandemi seperti masyarakat dihimbau untuk tetap selalu menjaga jarak dengan sesama agar dapat meminimalisir virus yang beerkembang. Dalam hal ini, dakwah dapat menggunakan atau memanfaatkan internet dengan aplikasi yang telah dilahirkan sebagai salah satu cara untuk menyebarkan pesan dakwah. Terdapat beberapa akun-akun dakwah oleh sekelompok orang atau individu untuk menyampaikan syiar islam, seperti akun instagram fuadbach, ust hanan attaki, ust Adi hidayat, ust Abdul somad. Dan masih banyak lagi para da’I yang menyiarkan agama islam melalui media sosial. Kemudian ketika berdakwah di media sosial para da’I dituntut untuk tidak menggunakan akun-akun sembarang atau palsu, dan hendaklah akun-akun tersebut berisi pesan-pesan kebaikan yang sesuai dengan Al-Quran dan sunnah rasul.

Covid 19 kini diketahui menjadi wabah yang sangat ditakuti umat manusia, karena penyebaran virusnya yang begitu mudah dan dapat terinfeksi melalui bersin atau batuk. Salah satu cara agar terhindar dari virus yaitu dengan menjaga jarak dengan orang lain. Hal tersebut adalah bagian dari sosial distancing. Kemudian hal lain yang dapat dilakukan yaitu dengan tidak menghadiri pertemuan dengan kapasitas masyarakat yang jumlahnya banyak, seperti festival, ibadah, konser, yang semata-mata agar virus tidak tertular terhadap yang lain.

Covid-19 hampir merubah tatanan kehidupan manusia, para da’i yang biasanya melakukan dakwah secara langsung dan sekarang dipaksa oleh keadaan untuk berdakwah ditempat masing-masing dengan tidak menghilangkan etika-etika berdakwah yang biasanya diterapkan dalam kegiatan dakwah sebelumnya.

Sasaran dakwah pada saat ini adalah beupaya agar dakwah masih tetap berjalan dengan menyampaikan pesan-pesan yang berisi kebaikan dan secara terus-menerus tersampaikan kepada mad’u baik itu melalui video, foto, ataupun tulisan. Hal ini tidak terlepas dari Etika dakwah dimedia sosial pada masa pandemi sekarang ini.

Previous
« Prev Post

Contact Form

Name

Email *

Message *