HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Search This Blog

Powered by Blogger.

Blog Archive

Mengamputasi Moderasi Islam di Balik Penghapusan Konten “Radikal”?

Mengamputasi Moderasi Islam di Balik Penghapusan Konten “Radikal”? 

Oleh: Lela Masriyat Hasugian

Haranews.com|•Sejak awal pengangkatan beliau sebagai menteri agama memang sudah nyaring bersuara menangkal radikalisme dan mengajak Islam damai (Islam yang wajar-wajar saja). Bahkan dalam pelantikannya, Jokowi menegaskan tugas Menteri Agama (Fachrul Razi) mengatur urusan berkaitan dengan radikalisme, ekonomi umat, industri halal , dan terutama haji (www.cnbcindonesia.com/news/20191024) 

Sepak terjang Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menghapus konten-konten terkait ajaran radikal dalam 155 buku pelajaran agama Islam sebenarnya bukan sesuatu yang aneh dan bukan sesuatu yang baru. Sebelumnya, Kementerian Agama merevisi 155 buku pelajaran agama sejak September 2019 tentang Khilafah dan Jihad.

 kebenciannya pada Islam semakin jelas terlihat dari penghapusan buku yang dianggap radikal adalah buku pelajaran Agama Islam dan tak satupun buku agama lainnya. Hal ini dijelaskan oleh Fachrul Razi bahwa ratusan judul buku yang direvisi berasal dari lima mata pelajaran, yakni Akidah Akhlak, Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam, Alquran dan Hadis, serta Bahasa Arab.

Tujuan penghapusan konten “radikal” ini merupakan bagian dari program penguatan moderasi beragama. Menag katakan dalam buku agama Islam hasil revisi itu masih terdapat materi soal khilafah dan nasionalisme. Meski demikian, buku itu akan memberi penjelasan bahwa khilafah tak lagi relevan di Indonesia.


Sungguh ini sangat berbahaya karena telah menafikan khilafah sebagai bagian dari ajaran Islam yang bersumber dari Alquran dan Hadis. Akan mehilangkan Khilafah bagian dari fikih siyasi (politik) Islam dan akan menghapus Tarikh (sejarah) panjang Khilafah yang menjadi puncak peradaban Islam. Artinya penghapusan konten “radikal” di 155 buku pelajaran Agama Islam adalah penghapusan Ajaran Islam itu sendiri.


====


Dengan kata lain rezim ini anti-Islam.


Tak cukup sampai di sini, Fachrul menyebut program moderasi beragama lain yang dijalankan pihaknya adalah pelatihan bagi guru dan dosen, penyusunan modul pengarusutamaan Islam wasathiyah, madrasah ramah anak dan pembangunan rumah moderasi di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) serta penguatan bimbingan perkawinan. 


Dalam sektor bimbingan perkawinan, Fachrul menitikberatkan pada persoalan kesehatan dan moderasi beragama agar kepala keluarga bisa mengajak anggotanya bersikap moderat.


Padahal kita tahu bahwa Islam moderat bagian dari rancangan penjajah untuk menghancurkan Islam kafah (akidah-syariah-dakwah). 


===


Islam moderat hanya mempercayai demokrasi sebagai sistem politik. Secara zahir, kampanye politik Amerika Serikat dilakukan untuk memaksa dunia Islam percaya dan mengadopsi demokrasi. Ketergantungan terhadap demokrasi secara otomatis memaksakan sekularisasi sehingga dunia Islam hanya meyakini Islam sebagai agama ruhiyah tanpa siyasiyah (politik).


Demokrasi menjadi mantra sakti Islam moderat yang harus dianut oleh dunia Islam. Tafsir tunggal demokrasi yang ‘maha benar’ inilah yang menyebabkan friksi, bahkan konflik. Bagaimana tidak, jika aturan dan ritme politik selalu dibangun sesuai dengan selera dan syahwat pemilik kepentingan utama. 


Membajak Islam Kafah Atas Nama Moderasi


Moderasi Islam dikenal sebagai upaya menjadikan Islam yang pertengahan, yakni Islam yang lebih toleran, Islam yang tidak “kaku” dan dapat disesuaikan dengan zaman. Istilah moderasi Islam atau Islam moderat sendiri selalu dihadapkan dengan istilah Islam radikal, Islam fundamentalis, atau ekstremis, yakni Islam yang dilabeli fanatik, intoleran dan cenderung tak mau menerima perbedaan. Inilah yang dianggap menghambat kehidupan berbangsa di tengah heterogenitas yang ada di masyarakat Indonesia. 

Ditilik dari sejarahnya saja dapat dilihat bahwa istilah jalan tengah ini lahir dari peradaban sekuler. Niat untuk menghadirkan Islam dalam kerangka pikir sekuler jelas bukan langkah yang tepat. Sebaliknya, langkah ini justru merupakan langkah sistematis untuk menghapus ajaran Islam kafah.


Ketakutan bahwa Islam kafah menghambat persatuan pun hanyalah halusinasi, tak berpijak pada bukti empiris. Sebab, secara empiris Islam justru diterapkan dalam kondisi masyarakat yang sangat heterogen.


Jika mau sedikit saja menjernihkan pemikiran, menelaah fakta yang ada saat ini, akan terlihat jelas bahwa konflik antar suku, konflik antar agama, rasisme yang tumbuh subur saat ini, lebih disebabkan karena penerapan sistem sekuler kapitalis yang tak kapabel meredam seluruh perbedaan yang ada di masyarakat. Ketidakmampuan memadamkan konflik ini dipicu karena keengganan manusia mengadopsi sistem kehidupan dari Sang Pencipta.




Di belahan dunia manapun, demokrasi tidak bisa dijalankan tanpa kekuatan pemilik modal. Negara-negara kortopokrasi yang sekuler dan kapitalis tak akan pernah berpihak pada kehadiran Islam ideologis. Islam ideologis akan selalu dianggap sebagai common enemy, sebagai sumber konflik. 


Alhasil, stigmatisasi dan monsterisasi Islam politik menjadi artikulasi utama untuk mendepak kehadiran akidah siyasi Islam dalam percaturan politik. Dengan kata lain, Islam moderat adalah penghalang bangkitnya Islam kafah dalam naungan khilafah. 


Rasulullah telah memberikan pelajaran kepada kita yaitu agar dapat tetap menyampaikan dakwah walau dalam keadaan apapun teruslah sampaikan, sebarkan, dan luaskan.

 Tidak henti-henti menyebarkan dakwah ditengah-tengah umat adalah hal yang efektif untuk saat ini sebab tanpa dakwah kita akan hidup dengan ketidakada aturan dan tanpa aturan kita akan hancur ibarat jalan tidak berarah dan tidak berujung. Problematika yang kita hadapi saat ini semua itu diakibatkan oleh ulah manusia sendiri yang bersifat lemah, terbatas, dan serba kurang.   

Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan (kemaksiatan) mereka itu agar mereka kembali (ke jalan-Nya) (TQS ar-Rum [30]: 41).

Begitulah yang terlihat saat ini sungguh banyak perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dan disitu pula seorang dai ustadz/ustadzah bergerak tidak diam dan tidak pula tutup mata seolah-olah tidak tahu dengan semua ini genjarkan dakwah agar meraka gentar karena sejatinya kebenaran akan terungkap.

Di tinjau dalam hal lain yaitu kasus di Indonesia, dalam ranah pendidikan, pemerintah bersemangat mengampanyekan moderasi Islam. Bahkan, konten-konten “radikal” dalam Pendidikan Agama Islam dihapus, direvisi atau di reposisi. Ajaran jihad dianggap menginspirasi terorisme. Harus ada tafsir ulang. Ajaran Khilafah tidak lagi dalam rumpun fikih, tetapi ditempatkan sebagai sejarah masa lalu.

bagaimana dengan hadis tentang Tajdid (Pembaharuan dalam Islam) dan kaitannya dengan arus modernisasi dan moderasi Islam?


Sebagaimana muslim yang bijak hendaknya dapat berpikir sebelum bertindak agar tidak terjerumus pada lembah kesesatan.


Wallahu a’lam bish-shawab.

Previous
« Prev Post

Contact Form

Name

Email *

Message *