HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Search This Blog

Powered by Blogger.

Blog Archive

KEPRIHATINAN TERHADAP PERPUSTAKAAN SEKOLAH DI KOTA MEDAN

By On August 08, 2020

Haranews.com|•Kita tidak asing lagi mendengar kata literasi, dimana-dimana kata ini seringdigaungkan. Lalu apakah kata “Literasi” hanya sekedar untuk digaungkan semata? Tentu tidak, justru kata literasi ini harus diwujudkan oleh sikap dan tindakan kita. Kata literasi maknanya luas, tetapi sering dikaitkan dengan minat baca, apa hubungannya? Tentu berhubungan, literasi erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan bisa kita dapatkan salah satunya dengan membaca. Maka dari itu erat kaitannya antara literasi dan minat baca.

Medan adalah kota besar, penuh dengan masyarakat, penuh dengan kegiatan positif, penuh dengan sekolah-sekolah yang peduli terhadap nasib generasi selanjutnya. Terkait hal tersebut, penulis punya sedikit cerita, tentang sebuah instansi pengumpul jendela dunia, begitulah penulis menyebutnya. Sebut saja instansi itu adalah Perpustakaan. Namun bagaimana kondisi perpustakaan di kota Medan ini? Apakah sudah mampu membawa generasi kita menjadi generasi yang berliterasi? Tentu ini pertanyaan yang akan mebuat setiap kepala berputar memikirkan jawaban yang pas untuk diungkap.

Sebagai mahasiswa ilmu perpustakaan, yang sudah pernah terjun ke lapangan meninjau bagaimana fungsi perpustakaan, sudah sesuai apa belum, penulis punya sedikit dugaan tentang bagaimana kondisi literasi di kota Medan kita yang tercinta ini.
Pertama, masih banyak perpustakaan di kota Medan ini yang belum menjalankan fungsinya dengan baik, terkhusus perpustakaan sekolah. Kedua banyaknya perpustakaan yang belum memiliki pegawai yang memang benar-benar belajar diranah perpustakaan, melainkan hanya pegawai yang dipindahkan untuk menambahkan jam kerja dari pegawai tersebut.untuk bekerja di perpustakaan. Alhasil hal ini tidak membuat perpustakaan sesuai dengan fungsinya. Pandangan penulis, kita terlalu meremehkan arti dari sebuah perpustakaan.

Selain dari pengalaman, membaca juga dapat menambah ilmu pengetahuan kita. Pengalaman dapat menambah ilmu pengetahuan kita dibidang praktek, tapi dengan membaca dan belajar dapat menambah ilmu pengetahuan kita dibidang teori. Teori dan praktek dalam pendidikan harus berkesinambungan jangan kita hanya berfokus dalam satu saja. Dari penjelasan ini, kita akan paham arti sebuah ilmu pengetahuan. Khususnya ilmu pengetahuan yang kita dapat ketika kita membaca.

Lantas bagaimana dengan kondisi perpustakaan di Medan ini?, waktu itu penulis sempat ditugaskan untuk magang di sebuah Sekolah Menengah Pertama di kota ini, termasuk beberapa dari teman-teman penulis juga ditugaskan, tetapi berbeda sekolah atau instansi. Setelah kami selesai dari magang tersebut, kami bercerita tentang kondisi perpustakaan sekolah di tempat kami magang, sehingga penulis berkesimpulan fungsi perpustakaan sekolah di kota Medan ini belum sepenuhnya terealisasikan, salah satunya dengan menempatkan pegawai yang bukan dari orang perpustakaan, sehingga kita melihat caranya dalam mengolah perpustakaan tidak didasari dengan standar.
Hal ini dapat menyebabkan kebingungan dalam sistem temu balik informasi ( Information Retriveal System), apalagi pengguna di sekolah adalah siswa yang belum terlalu paham terhadap jenis-jenis ilmu pengetahuan. 


Seharusnya di setiap sekolah itu wajib mengadakan pembelajaran terkait perpustakaan seperti pendidikan terhadap pengguna perpustakaann (User Education), agar mereka tidak lagi buta terhadap fasilitas yang ada di perpustakaan. Terkhusus perpustakaan sekolah di kota Medan ini yang rata-rata masih manual atau pralaras, padahal kita sudah memasuki zaman yang di penuhi dengan digitalisasi, seharusnya perpustakaan sekolah juga dapat berbaur dengan zaman.
“Ilmu itu ibarat kuda dialam liar, sulit ditangkap. Jadi biar gampang, dia diikat. Begitu pula dengan ilmu, biar gampang diingat, dicatat” teringat apa yang dikatakan seorang guru, untuk memotivasi penulis dalam menuntut ilmu. Untuk mencapai apa yang kita mau dalam ilmu pengetahuan, mengingat apa yang di ajarkan, lalu mempraktekkannya kelapangan tidaklah cukup. Kita harus punya catatan, terhadap apa yang dipelajari, kita harus menguraikan apa yang kita pelajari, karena suatu saat nanti, apa yang kita catat, ataupun yang kita tulis akan berguna bagi masyarakat, nusa, bangsa serta agama. Buku-buku adalah hasil pemikiran daripada intelektual yang isinya dapat menambah wawasan kita. Oleh karena itu perhatikanlah perpustakaan, jaga dan mari sama-sama kita gaungkan literasi di kota Medan ini, untuk meningkatkan dan menciptakan generasi yang lebih baik.


Penulis Nanda Ariesta K GT Mahasiswa Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

NEW NORMAL, BAGAIMANA KOMUNIKASI YANG EFEKTIF ?

By On August 07, 2020

(Nahidah Al Sakinah Khan Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial/ Kuliah Kerja Nyata DR 47 Universitas Islam Negeri Sumatera Utara)
Haranews.com|•Pandemi covid-19 telah membawa ketidakpastian dan gangguan pada setiap bisnis dan telah menyebabkan banyak perubahan yang mendadak pada diri kita. Dengan pandemi Covid-19 yang menyebar di berbagai penjuru dunia, banyak aktivitas pun terganggu, mulai dari pendidikan, ekonomi, sosial dll. Lantas apakah pandemi sudah berakhir sehingga kita masuk ke era normal baru? Tentu saja tidak.

Dalam era ini, sebagian aktivitas bisa dilakukan secara digital atau virtual. Sebagai contoh, kini karyawan dibeberapa perusahaan tidak perlu datang ke kantor untuk menyelesaikan semua pekerjaannya, cukup dengan alat kerja berupa laptop dan koneksi internet di rumah, mereka bisa dengan mudah mengerjakan semua pekerjaannya.
 
Lantas apa new normal (Kebiasaan baru) yang dimaksudkan? New Normal adalah paradigma berfikir dan berperilaku untuk tetap menjalankan aktivitas seperti biasanya. Namun ditambah dengan menerapkan protokol kesehatan, guna mencegah terjadinya penularan covid-19. 
Kemampuan menggunakan teknologi komunikasi menjadi sesuatu yang penting di era new normal. Pasalnya tetap terkoneksi dengan orang lain telah menjadi kebutuhan utama saat ini. Terpisahkan oleh jarak yang jauh dan keadaan yang tidak memungkinkan untuk bertemu dapat diatasi dengan memanfaatkan aplikasi dan media sosial yang ada. 
 
Selama pandemi, kita merasakan dunia yang tak seperti biasanya. Selain adanya gerakan kesadaran bersama untuk tinggal di rumah saja, juga memperlihatkan kian nyatanya kebutuhan ekosistem komunikasi berbasis teknologi komunikasi. Sejumlah aplikasi berbasis teknologi komunikasi, seperti Zoom, Skype, Google Meet, Whatsapp, dan aplikasi lainnya tiba-tiba menjadi platform penghubung komunikasi antarwarga.
 
Hal ini menunjukan bahwa berkomunikasi tidak hanya menjadi kebutuhan individu di masa pandemi ini tetapi telah menjadi kebutuhan perusahaan untuk terus terhubung dengan konsumennya. Pihak-pihak tersebut menyadari bahwa dengan memanfaatkan fitur-fitur yang ada, mereka dapat dianggap eksis, up-to-date dan peduli di masa new normal ini.
 
New normal menjadi praktik mengubah pendekatan dalam komunikasi. Tak lagi cukup menggunakan komunikasi antarpribadi dan jaringan komunikasi organisasi, tetapi juga bisa dengan intens menyiapkan infrastruktur dan ekosistem baru dalam artikulasi dan agregasi politik mereka, yakni komunikasi terintegrasi.
 
Komunikasi terintegrasi memang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya, komunikasi tak terbatasi ruang dan waktu sehingga bisa membantu efektif dan efisiennya komunikasi para komunikator. Jenjang komunikasi yang bersifat perjumpaan fisik, kerap lebih formal dan menghadirkan mata rantai komunikasi yang panjang. Hal ini bisa dipangkas dengan komunikasi daring. Misalnya, dalam rapat kerja, rapat terbatas, konsolidasi, dan sosialisasi. Komunikasi daring dapat menghemat biaya, memangkas birokrasi, dan bersifat fleksibel dari sisi waktu dan tempat. Kelemahannya, teknologi tetap tak bisa menggantikan komunikasi manusiawi yang timbal-balik dengan segala kompleksitasnya. Teknologi selalu terbatas dalam menciptakan kehangatan hubungan, orisinalitas, emosi, dan respons langsung. Teknologi juga tetap memiliki kerentanan, seperti lapis pengamanan informasi dan perlindungan data pribadi.
 
Terbatasnya kegiatan tatap muka di masa new normal telah meningkatkan urgensi dari pentingnya membangun digital self-branding. Digital self-branding ini utamanya dibutuhkan bagi mereka yang saat ini tengah aktif dalam mencari pekerjaan dan pengalaman sebab para rekruter perusahaan dan organisasi saat ini banyak melakukan seleksi pegawai lewat internet dan media sosial. Seperti platform LinkedIn yang saat ini mengalami lonjakan tajam penggunanya dan kebanyakan dari mereka sedang mencari pekerjaan di masa pandemi ini (Wijaya, 2020).
 
Masa new normal telah memberikan banyak perubahan dari segi komunikasi namun hal ini tidak serta-merta membatasi aktivitas masyarakat Indonesia. Peran komunikasi tetap dibutuhkan guna memenuhi kebutuhan masyarakat seperti menjadi jembatan dalam metode pembelajaran jarak jauh, berperan penting dalam proses rekrutmen pekerjaan seseorang, menghibur konsumen dan orang terdekat kita. Oleh karena itu, perlu disadari bahwa peran komunikasi tidak hanya penting untuk dilakukan oleh pemerintah tetapi juga dari elemen masyarakat. Melalui kolaborasi keduanya diharapkan dapat mencapai tujuan akhir dari tujuan komunikasi itu sendiri.
 
Karakteristik masyarakat Indonesia di masa new normal juga telah memberikan peluang kepada pihak-pihak tertentu untuk terus tetap eksis. Selain itu, komunikasi saat ini telah menunjukan betapa mudahnya aksesibilitas yang dimiliki setiap orang. Kehadiran setiap individu dan kelompok juga semakin dituntut serta kreativitas yang terus diuji agar tetap relevan di masa pandemi Covid-19 ini.
 

Penulis : Nahidah Al Sakinah Khan Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial/ Kuliah Kerja Nyata DR 47 Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Pentingnya Etika Dalam Berkomunikasi di Masa Pandemi Covid-19

By On August 07, 2020

(Hidayanti Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial/ Kuliah Kerja Nyata DR 47 Universitas Islam Negeri Sumatera Utara)

Haranews.com|•Pandemi covid-19 telah mengubah pola komunikasi di dalam masyarakat. Dimana komunikasi yang biasanya dapat dilakukan secara tatap muka, kini harus dilakukan secara virtual karena adanya kebijakan social distancing, serta anjuran bekerja dari rumah (work from home) dari pemerintah. Dengan berlakunya kebiasaan baru ini, kini komunikasi secara virtual berkembang cukup pesat karena semua orang memanfaatkan media online agar tetap bisa bertatap muka dalam berkomunikasi serta tetap produktif menjalankan aktivitas sehari-hari. 


Sebagai makhluk sosial, tentunya komunikasi merupakan kegiatan yang tidak lepas dari kehidupan sehari-hari. Bahkan di masa pandemi covid-19 ini, masyarakat dituntut berkomunikasi secara virtual dengan memanfaatkan media online seperti Whatsapp, Zoom, Google Meet, dll. Namun dalam praktiknya, komunikasi yang dilakukan secara virtual ini tidak selalu berjalan dengan lancar sehingga menyebabkan munculnya hambatan dalam berkomunikasi. Hambatan yang umum terjadi dalam komunikasi virtual yakni terjadinya kesalahpahaman antara sesama, serta tidak tercapainya kepuasan komunikasi antara komunikator dan komunikan. Salah satu munculnya hambatan dalam komunikasi virtual ini tentunya berkaitan dengan etika yang kerap dilupakan dalam berkomunikasi.

Penting bagi kita memahami etika komunikasi. Karena tanpa adanya etika dalam berkomunikasi, maka hambatan-hambatan tersebut dapat memperburuk hubungan kita dengan orang lain. Adapun etika yang dapat kita terapkan dalam komunikasi virtual melalui media online di masa pandemi covid-19 yaitu;
Pertama, pemilihan diksi dan penggunaan kalimat yang tepat dalam dalam penyampaian pesan. Karena komunikasi lewat media kebanyakan mengandalkan tulisan, maka kita harus lebih berhati-hati dengan penggunaan kalimat yang ditulis.
Kedua, memahami keadaan atau kondisi lawan bicara agar mereka dapat menerima pesan yang kita sampaikan dengan nyaman.
Ketiga, menyampaikan pesan dengan sopan serta berpikir terlebih dahulu sebelum menyampaikan pesan. Jangan gegabah dan seenaknya dalam berkomunikasi, hal ini dimaksudkan agar pesan yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Selain itu, upaya lain komunikasi yang beretika di masa pandemi covid-19 adalah dengan menerapkan unsur kepedulian atau empati, kejujuran, rasa hormat, saling menghargai, keterbukaan dan rendah hati agar nantinya pesan dapat tersampaikan tanpa halangan psikologis atau penolakan dari penerima pesan sehingga terjadi kepuasan dalam komunikasi antara komunikator dan komunikan serta tercapainya tujuan dari pesan yang telah disampaikan.

Kita tahu persis bahwa berkomunikasi secara tatap muka tanpa perantara media merupakan komunikasi yang kualitas dan kenyamanannya tidak dapat tergantikan, namun dengan melihat keadaan seperti saat ini penting sekali seseorang yang melakukan komunikasi secara virtual menerapkan dan menjunjung tinggi etika dalam berkomunikasi khususnya di masa pandemi covid-19 yang rentan akan hambatan ini. Karena dengan penerapan etika, menjadikan kita individu yang beraturan yang mampu menjaga hubungan sosial dengan siapapun dengan baik tanpa menyakiti ataupun merugikan orang lain.


Penulis : Hidayanti Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial/ Kuliah Kerja Nyata DR 47 Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

POLA INTERAKSI SOSIAL DI MASA PANDEMI COVID-19

By On August 06, 2020

Haranews.com|•Saat ini pemerintah kita sedang berjuang dengan sungguh-sungguh menangani wabah covid-19. Berbagai upaya sudah dilakukan baik yang bersifat penanganan medis maupun non-medis.
Sebagai warga negara, wajib bagi kita untuk mendukung dan menaati pemerintah dalam mengatasi wabah mematikan ini. Selama tidak bertentangan dengan syariat agama kita, kebijakan pemerintah tentu bertujuan mewujudkan kemaslahatan.

Ketaatan kita pada pemimpin selaku ulil amri adalah salah satu bentuk ketaatan kita juga kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana tersebut dalam QS. an-Nisa’ : 59,
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu”.
Rasulullah SAW juga bersabda, “Siapa yang menaatiku, sungguh dia telah menaati Allah. Siapa memaksiatiku (melanggar sunnah/ ajaran Nabi), sungguh dia telah bermaksiat kepada Allah. Siapa menaati pemimpin, sungguh dia telah menaatiku. Siapa bermaksiat (tidak menaati) kepada pemimpin, sungguh dia telah bermaksiat kepadaku.” (HR. al-Bukhari)

Dalam menghadapi wabah penyakit yang menular sangat cepat ini, diperlukan persatuan dan kekompakan di bawah komando pemerintah. Pemerintah dengan masukan dan arahan dari tenaga dan ahli medis/kesehatan, telaah mendalam majelis ulama dari tinjauan keislaman, dan masukan pihak berkompeten lainnya merupakan jaminan yang harus dipatuhi.

Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, arahan pemerintah saat ini adalah menerapkan physical distancing, memakai masker saat keluar rumah, sering mencuci tangan dengan sabun, menghindari kerumunan merupakan ikhtiar memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Sangat disayangkan jika ada sebagian warga masyarakat, terutama yang beragama Islam, yang tidak menghargai upaya pemerintah. Mereka berbuat seenaknya sendiri dan abai terhadap himbauan dan instruksi pemerintah.

Alasan yang dilontarkan pun kadang bermacam-macam. Tak jarang, balasan yang mereka berikan justru umpatan, protes, hinaan, dan cacian. Saatnya kita semua bersatu di bawah komando dan kebijakan pemerintah dalam menghadapi wabah Covid-19 untuk keselamatan kita bersama. Merebaknya wabah Covid-19 ini adalah musuh bersama manusia, kita singkirkan prasangka yang berbau politik ataupun tendensilainnya dalam upaya merespons Covid-19 ini. Ini adalah persoalan kemanusiaan, bersama kita melawan Covid-19.

Tetap Produktif dengan Bekerja dari rumah yang lebih sering disebut Work From Home (WFH) menjadi tren global beberapa waktu terakhirini. Pemerintah Indonesia pun sudah mengeluarkan kebijakan untuk meniadakan pertemuan face to face dan melakukan segala aktivitas di rumah, baik untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun pekerja swasta, termasuk bekerja, belajar, bahkan beribadah. WFH adalah suatu istilah bekerja dari jarak jauh, lebih tepatnya bekerja dari rumah. Hal ini bertujuan mengurangi resiko penularan covid-19 dan menjaga keselamatan bersama.

Bahaya Hoax (berita bohong) beredar begitu masif di tengah masyarakat seiring meningkatnya penggunaan teknologi dewasa ini. Ia dapat menyebar dalam bentuk teks tertulis, meme, foto, ataupun video. Sebuah studi mengungkapkan bahwa berita hoax berdampak terhadap kesehatan mental orang yang terpapar olehnya seperti post-traumatic stress syndrome (PTSD). Menimbulkan kecemasan, hingga melakukan tindakan kekerasan. Oleh karena itu, belajar menilai informasi yang diterima, misalnya mencerna apakah info itu masuk akal, menjadi cara tepat dalam mempersiapkan diri dalam menangkal berita hoax.

Dalam kaitan perilaku bermedia sosial yang baik, seseorang haruslah memerhatikan teori AISAS (Attention, Interest, Search, Action, dan Sharing). Sebuah berita atau informasi yang diterima seharusnya disaring terlebih dahulu dengan mencari kebenaran berita tersebut (search) sebelum melakukan tindakan atau mengambil sikap (action).

Penyebar hoaks melanggar UU Informasi dan Transaksi Eletkronik (UU-ITE). Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) menyebutkan bahwa penyebar berita hoax, yaitu “Setiap orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik”. Adapun sanksi bagi penyebar hoax disebutkan dalam pasal 45a ayat 1 yang berbunyi “Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan beritabohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 ayat 1 di pidana dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 1 miliar”.

Di tengah situasi pandemi corona seperti saat ini, kita masih menemukan ada saja orang-orang yang menyebarkan berita-berita palsu yang menyebabkan ketakut
an dan kepanikan dalam masyarakat. Penyebaran berita hoax ini sulit dibendung karena terkait perilaku orang-orang yang mencari keuntungan, entah bermotif sosial, politik, ekonomi, bahkan keagamaan, dalam situasi tertentu. Sikap kita sebagai penerima informasi harus lebih selektif ketika menerima sebuah informasi.

Beberapa sikap yang perlu dikedepankan ketika menerima sebuah informasi agar tidak “termakan” berita hoax:
Pertama, melihat sumber beritanya, apakah dari sumber yang dapat dipercaya atau tidak, dari media main- stream atau media abal-abal.
Kedua, melakukan pengecekan ke sumber beritanya dan menyaringnya melalui pencarian berita hoax atau bertanya kepada orang lain yang lebih tahu.
Ketiga, menilai sebuah berita apakah layak dikonsumsi atau tidak.
Keempat, bereaksi positif terhadap berita hoaks dan tetap berpikir logis dan positif. Semoga kita semua tetap berperpikir dan berperilaku positif di tengah merebaknya wabah covid-19 ini dan tidak menjadi produsen, penyebar, ataupun konsumen berita hoax.

Akad nikah ditengah merebaknya pandemi covid-19, pemerintah senantiasa mengimbau untuk melakukan pembatasan sosial dan fisik. Salah satu caranya adalah dengan tetap berada di rumah. Kementerian Agama RI juga mengimbau agar sebaiknya calon pengantin menunda akad nikahnya dengan sejumlah pertimbangan. Persoalannya adalah jika masih ada berkeinginan kuat untuk tetap melangsungkan akad nikah di tengah pandemi covid-19 ini. Tentu saja, hal itu tidak dilarang, karena pernikahan adalah ibadah yang sakral. Kalaupun tetap hendak melangsungkannya, diharapkan agar tetap memerhatikan beberapa hal dalam pelaksanaannya, di antaranya:

a. Kedua calon pengantin harus sehat. Jika memungkinkan kedua calon pengantin melakukan tes untuk mengetahui positif atau negatif dari Covid-19. Sebelum berlangsung akad nikah, kedua calon pengantin harus menjaga kesehatan dan banyak berada di rumah untuk menghindari terpapar virus mematikan tersebut.
b. Tempat pelaksanaan akad nikah tidak perlu luas, mengingat tempat yang luas akan mengundang orang banyak, cukup di rumah atau di aula Kantor Urusan Agama (KUA).
c. Undangan harus dibatasi. Akad nikah cukup dihadiridua orang calon pengantin, satu orang wali, dan dua orang saksi. Jangan mengundang orang banyak karena ini melawan imbauan pemerintah untuk tidak membuat keramaian. Semua pihak yang hadir harus menjalankan protokol pencegahan covid-19. Mencuci tangan sebelum akad nikah. Baik wali ataupun penghulu berikut calon mempelai laki-laki harus memakai masker dan sarung tangan.
d. Tidak mengadakan resepsi atau pesta. Selesai akad nikah sebaiknya tidak berlama-lama berkumpul di suatu tempat.

Semoga Bermanfaat...

Penulis : Abdul Aziz Jurusan Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi/ Kuliah Kerja Nyata DR 26 Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

BERIBADAH DI MASA PANDEMI COVID-19

By On August 05, 2020

Haranews.com|•Ibadah secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk. Di dalam syara, ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para rasulNya.
Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi. Ibadah ialah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah SWT, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang batin

SHALAT DI MASJID
1.Azan Shalat Rawatib dari Masjid
Pada dasarnya, mengumandangkan azan dan iqamah merupakan syiar Islam, di samping sebagai pemberitahuan tanda masuknya waktu shalat fardhu bagi umat Islam. Hukum dasarnya adalah sunnah. Bahkan, menurut Mazhab al-Syafi’i dan Hanbali, azan dan iqamah pun dianjurkan ketika hendak shalat sendirian (munfarid), meski dengan suara pelan yang cukup didengarkan oleh diri kita sendiri. Persoalannya adalah bagaimana mengumandangkan azan di saat adanya pandemi semisal Covid-19 saat ini, di mana terdapat himbauan dari Pemerintah ataupun Majelis Ulama Indonesia (MUI) atas masukan dari ahli kesehatan untuk menerapkan pengaturan jarakfisik ataupun sosial (physical/ social distancing) agar dapat memutus rantai penyebaran Covid-19. Di satu sisi, kumandang azan adalah panggilan untuk shalat berjamaah (hayya ‘ala shalah). Di lain sisi, kita dilarang berjamaah di masjid karena tentu akan mengumpulkan banyak orang yang melanggar penerapan physical distancing.

2. Shalat Berjamaah di Masjid
Pada dasarnya, hukum dasar shalat berjamaah adalah sunnah mu’akkadah. Adapun menjaga jiwa dari tertularnya virus yang mematikan hukumnya wajib. Memprioritaskan yang wajib dari pada yang sunnah adalah lebih baik. Jika ada yang tetap melaksanakan shalat berjamaah di masjid dengan jarak makmum berjauhan dengan niat menghindari kontak fisik, itu dapat mengurangi keutamaan shalat jamaah kita. Shalat berjamaah mensyaratkan rapih dan rapatnya shaf (taswiyah al-shufuf). Ulama Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali menyatakan hukum taswiyah shufuf adalah mustahab, bukan wajib, sehingga sehingga meninggalkan kerapihan dan rapatnya shaf dalam shalat jamaah tidak membatalkan shalat. Salah satu argumentasinya adalah lafal hadits “kerapihan shaf adalah bagian dari kesempurnaan shalat” (HR. al-Bukhari). Kata tamam yang berarti “kesempurnaan” adalah bersifat tambahan, di luar dari yang semestinya, sehingga tidak membatalkan shalat jika meninggalkannya. Meski ada ulama yang membolehkan shaf jamaah yang renggang dalam kondisi darurat, namun sikap hati-hati kita harus lebih diutamakan. Banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan semisal belum adanya jaminan siapa yang sudah atau tidak tertular dari jamaah yang hadir, dan adanya pengidap yang tanpa gejala, dan selainnya. Kita perlu memahami dengan baik maksud hadits “Hindarilah wabah penyakit seperti larimu (menghindari) kejaran macan” (HR. al-Bukhari). Kita diminta menghindari semaksimal secara serius penyakit, terlebih virus Covid-19 yang sangat mudah menular dan mematikan ini.

3. Menutup Masjid
Di sejumlah negara, pemerintah setempat atas masukan ulama mengimbau menutup masjid untuk menghindari penyebaran Covid-19. Tentu saja, kebijakan tersebut tidak bermaksud merendahkan wibawa masjid sebagai rumah Allah SWT dan tempat ibadah umat Islam, apalagi menstigma masjid sebagai tempat penyebaran virus, karena jamaahnya berwudhu sebelum memasukinya, kebersihannya terjaga, dan selainnya. Poinnya bukanlah melarang shalat ataupun beribadah di masjid, tetapi mencegah berkumpulnya banyak orang ataupun menghindari kontak fisik di masa merebaknya pandemik Covid-19 ini.

4. Qunut Nazilah
Secara semantik, qunutberarti“ketaatan”, “shalat”, “diam”, “berdiri”, dan “berdoa”. Dalam arti “doa” inilah yang lebih dikenal. Secara syariat, qunut berarti “nama dari sebuah doa yang dibacakan di waktu berdiri dalam shalat pada waktu tertentu”. Adapun arti nazilah yaitu musibah yang menimpa, seperti adanya pandemi, kekeringan, bahaya yang meliputi kaum Muslimin, baik secara keseluruhan maupun di kawasan tertentu. Pembacaan doa qunut nazilah di tengah merebaknya Covid-19 yang menyerang banyak kaum muslimin di banyak negara sangat baik untuk dilaksanakan setiap waktu shalat, terlebih telah dianjurkan oleh MUI atas pertimbangan Covid-19 ini sudah masuk kategori musibah besar yang menimpa kaum Muslimin.

5. Mengenakan Masker dalam Shalat
Dalam shalat, terutama saat sujud, terdapat tujuh anggota badan yang merapat ke lantai tempat shalat. Ketujuh anggota badan tersebut adalah dahi termasuk hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua jari kaki. Terkait hidung, ada yang memasukkannya sebagai bagian dari dahi dan ada juga yang tidak memasukkannya.

6. Menggunakan Hand Sanitizer
Hand sanitizer adalah cairan atau gel yang biasa digunakan untuk mengurangi agen infeksi pada tangan. Penggunaan hand sanitizer merupakan opsi karena cara kerjanya mirip dengan mencuci tangan dengan sabun. Kedua cara ini sangat dianjurkan untuk menghindari paparan virus, bakteri, dan kuman. Atas dasar itu, dibolehkan menggunakan hand sanitizer saat hendak melaksanakan shalat. Bahkan sangat dianjurkan jika terdapat kekhawatiran adanya virus yang menempel di tangan. Hanya saja, penggunaan yang berlebihan terhadap sanitizer ini tidak dianjurkan karena memiliki efek samping pada kulit. Kebanyakan pakar lebih mengutamakan penggunaan sabun biasa dengan air yang mengalir untuk menjaga kebersihan tangan dari virus.

Semoga Bermanfaat


Penulis Susi Nurmala Sari Jurusan Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah/ Kuliah Kerja Nyata DR 71 UIN SU

Tantangan Dakwah di Masa Pandemi Covid-19

By On August 05, 2020


Haranews.com|•Penularan Virus Corona secara terus-menerus mengakibatkan lemahnya perekonomian, pendidikan, sosial, bahkan terganggunya proses dakwah secara langsung.

Dakwah menurut Syekh Ali Mahfudz adalah Mengajak manusia untuk mengerjakan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh mereka berbuat baik dan melarang mereka dari perbuatan yang jelek, agar mereka mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita temui masyarakat yang saling nasehat-menasehati diantara sesama. Hal ini merupakan salah satu contoh praktik dakwah dalam masyarakat.

dakwah secara langung banyak dilakukan dengan mengumpulkan banyak massa, inilah salah satu tantangan seorang da’I dalam berdakwah di masa pandemi covid-19 ini.
Karena selama pandemi ini tidak boleh berkumpul ditempat keramaian, dan harus tetap menjaga jarak untuk memutus mata rantai penularan virus covid-19. Namun, di masa pandemi seperti ini, para da’I tetap berdakwah secara virtual.

Banyak kajian-kajian yang dilakukan secara online dengan memanfaatkan sosial media dan media-media yang lain. Akan tetapi untuk da’I yang tetap berdakwah di pedalaman atau didesa-desa yang masih kurang akan teknologi, memiliki tantangan tersendiri dalam berdakwah, karna belum tentu disuatu desa tersebut memiliki jaringan yang memungkinkan untuk melakukan dakwah secara online atau virtual dan belum tentu semua masyarakat memiliki smartphone.

Walaupun sekarang ini banyak da’I yang berdakwah secara online di youtube, facebook atau aplikasi lain, bukan berarti da’I tersebut tidak memiliki tantangan dalam berdakwah. Ketika berdakwah, terkadang mad’u salah penafsiran terhadap apa yang disampaikan da’I. Dan untuk mengumpulakan mad’u secara online ketika akan berdakwah, sedikit sulit bagi para da’I yang tidak cukup terkenal. Sehingga seorang da’I harus menyebar informasi-informasi mengenai kajian-kajian online yang akan dilaksanakan. Selain itu, kondisi Mad’u juga menjadi tantangan bagi para da’i. karena ketika menyampaikan materi dakwahnya, seorang da’I tidak akan tahu apakah mad’u tersebut orang berpendidikan, anak remaja atau pun yang lainnya.

Sehingga dengan tantangan-tantangan yang ada, Seorang da’I harus tetap memperhatikan dan menyusun secara baik materi apa yang akan disampaikan, agar materi tersebut tidak mengandung unsur Sara yang mengakibatkan terjadinya konflik.

seorang da’I juga harus mampu menyusun stratergi yang baik dalam berdakwah agar tujuan dari dakwah tersebut tersampaikan secara sempurna kepada mad’unya dengan tetap memperhatian situasi dan kondisi mad’u ataupun kondisi yang terjadi sekarang ini.


Agar proses dakwah di masa pandemi covid-19 tetap berjalan dengan baik dan memenuhi protokol kesehatan, maka seorang da’I dapat melakukan dakwah secara virtual misalnya dengan membuat kajian-kajian online, webinar, membuat grup whatsapp berisi dakwah, live streaming di youtube atau facebook dan lain lain. Jika tidak memungkinkan untuk berdakwah secara virtual, dakwah bisa dilakukan dengan tatap muka secara langsung tetapi tetap mematuhi protokol kesehatan, misalnya dengan menjaga jarak sejauh 1 meter terhadap mad’u yang lain, dengan menggunakan masker, membawa handsanitaizer, dan tidak bersalaman dengan mad’u yang lain.

Walaupun dalam masa pandemi covid-19 memiliki tantangan-tantangan tersendiri, tidak menjadi halangan dalam berdakwah. Dan dakwah harus tetap berjalan dengan tetap mengikuti protokol kesehatan.

Karena berdakwah adalah kewajiban setiap muslim. Sebagaimana firman Allah SWT, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar”. (QS. Ali Imran:104).


Penulis Nur Afni Br Nasution Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi/ Kuliah Kerja Nyata 107 Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

KETELADANAN NABI AYUB DALAM PENCEGAHAN COVID- 19

By On August 04, 2020

(Rizky
(Rizky Azhary Kuliah Kerja Nyata DR 5 UIN SU)

Haranews.com|•Perjuangan atau keteladanan nabi Ayub dalam mengalahkan penyakitnya bisa menjadi contoh dalam pencegahan terhadap pandemi Covid-19. Melalui kisah nabi Ayub yang diserang penyakit bisa diambil pelajaran dan hikmah serta meniru kekuatan serta sifat nabi Ayub ketika terkena suatu penyakit, dapat diketahui bahwasanya nabi Ayub ialah seorang nabi yang sangat kaya sekali, mempunyai hewan ternak, mempunyai lahan pertanian yang sangat luas, dan beliau juga orang yang baik hati suka mengeluarkan harta bendanya untuk membantu fakir miskin, yatim piatu dan memuliakan tamunya.
 Disaat pandemi Covid-19 yang sekarang terjadi mengakibatkan perekonomian menjadi terganggu banyak masyarakat jadi kesusahan, melihat itu bisa digunakan sifat nabi Ayub yang dermawan. Orang kaya pada saat ini yang punya banyak kelebihan dalam ekonomi ada baiknya untuk berdonasi dan membantu sesama ummat manusia sebab Islam juga menganjurkan ummatnya untuk saling tolong menolong. Donasi yang diberikan bukan hanya pada bidang ekonomi seperti pangan saja, tetapi juga sandang yang bisa mencegah terjadinya penyebaran Covid-19 yaitu seperti memberikan donasi kepada masyarakat berupa masker, hand sanitizer, serta alat pelindung diri untuk para dokter dan suster yang menjadi garis terdepan dalam menghadapi Covid-19.
 Dalam kisah nabi Ayub Allah menguji nabi Ayub dengan harta bendanya yang semakin lama semakin menipis dan akhirnya habis diapun menjadi miskin. Walaupun hal itu terjadi pada nabi Ayub tetapi imannya tidak bergoncang beliau tetap senantiasa beribadah kepada Allah dan berpikir positif bahwa Allah akan memberikannya rezeki dan Allah akan memberikannya kekayaan. Saat terjadi Covid-19 ini masih ada orang yang bekerja diluar namun tidak memakai masker dan tidak berjaga jarak dan mengacuhkan himbauan pemerintah untuk dirumah aja, inilah yang menyebabkan makin bertambahnya orang yang terinfeksi Covid-19 karena keluar rumah dan berjumpa dengan orang lain yang dirinya terinveksi Covid-19 namun ia tidak menyadari. Islam mengajarkan untuk taat kepada aturan pemimpin, pada saat ini pemerintah menyerukan untuk berjaga jarak dan juga melakukan kerja, dan belajar dirumah saja maka taatilah karena ini untuk kepentingan bersama dalam mencegah Covid-19. Rezeki telah di atur oleh Allah maka tetap optimis pasti ada cara lain untuk dapat mendapatkan rezeki.
 Setalah nabi Ayub lulus dari ujian cobaan yang diberikan Allah yaitu  hartanya habis namun iman nabi Ayub tetap kuat dan tidak goyah. Tetapi setelah itu datang cobaan ujian terhadap nabi Ayub yaitu Allah memberikan penyakit dahsyat, penyakit yang tidak sembuh-sembuh namun nabi Ayub tidak berputus asa nabi Ayub tetap tenang dan sabar tidak mengeluh akan sakit yang dideritanya dan nabi Ayub tetap menjalankan ibadahnya kepada Allah.

 Covid-19 lebih baik dicegah daripada diobati maka taati aturan yang diberikan pemerintah untuk menekan penyeberan Covid-19 karena saat ini vaksin atau obat penawar dari Covid-19 ini belum ditemukan dan angka kematian makin tinggi. Ketenagan nabi Ayub patut dicontoh dalam pencegahan Covid-19 saat ini yaitu jangan panik dan tidak termakan oleh berita hoax maka melindungi diri adalah kunci dari pencegahan Covid-19 ini. Sebelum melaksakan ibadah sholat seorang ummat muslim dianjurkan untuk berwudhu, saat ini untuk mencegah Covid-19 dianjurkan juga menggunakan hand sanitizer yaitu membersihkan tangan dengan hal ini maka hal dengan hal yang kecil ini Covid-19 bisa dicegah. Sabar juga menjadi pendorong dalam pencehagan Covid-19 seperti sabar tidak keluar rumah kecuali hal yang sangat mendesak, ujian yang dihadapi manusia saat ini dalam Covid-19 menguji kesabaran dan kedewasaan cara berpikir dan sikap dalam kehidupan sebab walaupun dirumah saja ummat Islam dapat melakukan banyak hal baru dalam mengisi waktu luang yang akan bermanfaat selama masa pencegahan Covid-19 seperti membaca buku, belajar masak dan lain-lain.

Penulis : Rizky Azhary Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi Kuliah Universitas Islam Negeri Sumatera Utara/ Kuliah Kerja Nyata DR 5/ 0104171014

Contact Form

Name

Email *

Message *